Menurut laporan terbaru “2026 State of Application Strategy Report” dari F5, sebanyak 98% organisasi sedang mempersiapkan diri menghadapi Agentic AI. Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak lagi mempertanyakan apakah AI akan bertindak secara mandiri, tetapi lebih fokus pada bagaimana mengelola dampaknya.
Perusahaan Menjaga Infrastruktur AI Tetap Dekat
Sekitar 78% organisasi menjalankan proses AI inference sendiri, sementara hanya 36% yang sepenuhnya bergantung pada layanan AI publik. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan ingin mempertahankan kontrol terhadap data, sistem internal, dan proses bisnis mereka.
Dengan Agentic AI, AI tidak lagi bekerja “di luar” perusahaan, tetapi langsung di dalam sistem perusahaan dan berinteraksi dengan data penting.
Peran AI Sudah Berubah
AI kini bukan hanya alat pasif yang menunggu perintah manusia. AI mulai menjadi “pelaku aktif” yang dapat:
- Mengirim permintaan otomatis
- Memanggil API
- Menjalankan rangkaian tugas
- Bekerja terus-menerus tanpa campur tangan manusia
Model identitas tradisional dibuat untuk manusia, seperti login pengguna dan pemberian hak akses tertentu. Namun model ini mulai kesulitan ketika yang bertindak adalah mesin atau AI yang mampu menjalankan ribuan aktivitas secara otomatis.
Identitas Menjadi Fokus Utama
F5 menemukan bahwa tantangan terbesar Agentic AI adalah identitas dan kontrol akses, bahkan lebih penting dibanding masalah biaya atau kualitas model AI.
Karena ketika AI dapat bertindak sendiri, pertanyaannya bukan lagi:
“Apa yang bisa dilakukan AI?”
melainkan:
“AI ini diizinkan menjadi siapa dan melakukan apa?”
Keamanan dan Delivery Kini Menyatu
Lapisan prompt dan token menjadi area utama yang diperhatikan organisasi, baik untuk performa maupun keamanan. Identitas menjadi elemen penting yang menghubungkan keduanya, karena identitas menentukan:
- Siapa yang mengirim prompt
- Hak akses token
- Aksi apa yang boleh dilakukan AI
Model Identitas Lama Tidak Lagi Cukup
Dalam lingkungan multi-model AI, permintaan dapat berpindah-pindah antar model secara dinamis. Karena itu:
- Verifikasi identitas satu kali saat login tidak lagi cukup
- Identitas harus terus diverifikasi sepanjang proses berjalan
- Kontrol akses harus dilakukan secara real-time
Dengan kata lain, identitas bukan lagi hanya pemeriksaan “di pintu depan”, tetapi menjadi kontrol yang terus aktif selama proses berlangsung.
Kontrol Harus Bersifat Otomatis dan Berbasis API
Perusahaan lebih memilih kontrol berbasis API dibanding GUI atau CLI karena AI agent bekerja melalui API, bukan dengan menekan tombol seperti manusia.
Artinya:
- Sistem keamanan harus otomatis
- Kebijakan akses harus dapat dibaca mesin
- Semua proses harus dapat dijalankan secara programatik
Identitas Adalah Satu-Satunya Kontrol yang Bisa Diskalakan
Menurut F5, Agentic AI menghadirkan:
- Lebih banyak aktor
- Lebih banyak aksi otomatis
- Perubahan yang terus berlangsung
Dalam kondisi seperti ini:
- Batas jaringan tradisional mulai kabur
- Hak akses statis menjadi tidak fleksibel
- Pengawasan manual tidak lagi memadai
Identitas menjadi satu-satunya kontrol yang mampu:
- Memastikan siapa yang bertindak
- Atas nama siapa tindakan dilakukan
- Dalam batasan apa tindakan boleh dilakukan
- Dengan tanggung jawab yang jelas
Kesimpulan
Data dari F5 menunjukkan:
- 98% organisasi mempersiapkan Agentic AI
- 78% menjalankan AI inference sendiri
- 88% mengalami tantangan keamanan atau operasional
- Identitas menjadi perhatian utama
Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan F5 indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Hubungi kami sekarang atau kunjungi F5.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
